Pada Teruel Grand Prix 2020 yang dilaksanakan pada 22 Oktober lalu, Honda menjadi produsen motor pertama yang menorehkan catatan bersejarah kemenangan Grand Prix ke-800 kali berkat kemenangan gemilang Jaume Masia (Leopard Racing Honda NSF250RW) di Moto3.
Pencapaian ini merupakan hasil dari semangat Honda yang tanpa henti terus meningkatkan performa dan kesempurnaan – semangat yang juga membawa perusahan yang berbasis di Tokyo ini ke ajang balap dunia lebih dari setengah abad lalu.
Pebalap dari berbagai penjuru dunia telah berhasil merasakan kesuksesan bersama teknologi mesin Honda di berbagai kategori Grand Prix, mulai dari balapan kelas 50cc di tahun 1960 hingga kelas 1000cc di MotoGP saat ini. Dalam kurun waktu 60 tahun di balapan Grand Prix, pebalap Honda berhasil memenangkan lebih dari 60 juara dunia dan Honda juga berhasil mendapatkan 70 gelar juara dunia konstruktor balap.
Target Honda berikutnya sudah sangat jelas: 900 Kemenangan Grand Prix, lalu 1000!
Mimpi Soichiro
Soichiro Honda mendirikan Honda Motor Company pada September 1948 disaat ia berusia 41 tahun. Ia telah jatuh cinta dengan dunia mesin dan roda sejak kecil. Pada usia 16 tahun ia bekerja sebagai mekanik dan juga insinyur dimana ia mendapatkan banyak pengetahuan yang kelak membantunya dalam mendirikan perusahaan produsen motor terbesar di dunia.
Honda san selalu mencintai balapan, jadi hanya membutuhkan waktu sebentar sebelum akhirnya motor Honda masuk ke dunia kompetisi balap, seperti kejuaraan Mount Fuji Jepang dan Asama Plains, yang mana kebanyakan digelar di sirkuit tanah. Keberhasilan Honda di tanah air kemudian mendorong Honda san untuk berpikir lebih besar dan bermimpi untuk mengikuti ajang balap di luar negeri.
“Saya tidak memerlukan gelar pemenang di Jepang,” ujarnya. “Saya ingin menjadi pemenang di ajang dunia. Karena apabila saya menjadi nomor satu di dunia, maka kami juga akan menjadi nomor satu di Jepang.
” Pada Maret 1954 Honda san membuat pengumuman yang menakjubkan, perusahaannya akan mengikuti ajang balapan Inggris Isle of Man TT yang pada saat itu merupakan ajang balapan motor paling bergengsi di dunia.
“Hari ini kita telah berhasil menyelesaikan sistem produksi yang mana sangat kami percayai penuh dan kesempatan telah datang untuk Honda berkompetisi,” tulisnya. “Saat ini saya memutuskan untuk berkompetisi di balapan TT tahun depan! Ini merupakan target yang berat, tapi kita harus meraihnya untuk menguji kelayakan industri teknologi Jepang, dan untuk mendemonstrasikannya ke dunia. Misi kita adalah untuk memberikan kebangkitan pada industri Jepang.”
“Disini saya mengukuhkan niatan saya untuk berpartisipasi di ajang TT dan menyatakan bersama rekan-rekan kerja saya bahwa saya akan mendedikasikan seluruh tenaga dan kekuatan kreativitas yang saya miliki untuk dapat memenangkannya.”
Pada kenyataannya, membutuhkan waktu lima tahun sebelum motor Honda akhirnya berpartisipasi pada balapan TT, setelah Honda san terlebih dahulu mengunjungi Isle of Man untuk mengumpulkan data. Pada saat itu ia sangat takjub dengan performa mesin balap yang kebanyakan berasal dari Italia dan Inggris. Setelahnya ia kembali ke Jepang dan kembali bekerja dengan para insiyurnya.
Pada April 1958 Honda memulai pengembangan RC140 125cc twin, motor Grand Prix pertama yang dibuat perusahaan. Honda san telah mengkalkulasi bahwa mereka membutuhkan setidaknya 17PS untuk dapat tampil kompetitif di Isle of Man, sehingga mereka bekerja keras untuk mencapai target 20PS (160PS per liter). Pada Oktober target tersebut berhasil tercapai, sehingga Honda memasuki balapan Ultra-Lightweight TT di tahun berikutnya.
RC142 yang membawa harapan Honda di balapan kelas dunia pertamanya memiliki desain yang sangat baik, dengan empat katup per silinder, RC142 menaruh Honda di jalan yang akan membawanya menuju berbagai seri kesuksesan luar biasa di kancah dunia.
Meskipun RC142 tidak cukup cepat untuk meraih juara di debut kejuaraan dunia pertama Honda, tetapi motor tersebut cukup kuat untuk memberikan poin kejuaraan dunia di kesempatan pertama Honda.
Naomi Taniguchi menyelesaikan balapan di posisi keenam dengan raihan poin terakhir dan di depan 3 rekan setimnya. Giichi Suzuki di posisi ketujuh, Teisuke Tanakan kedelapan dan Junzo Suzuki ke-11. Ini merupakan hasil yang mengesankan untuk performa tim yang mengantarkan Honda menjadi pemenang tim pada Ultra-Lightweight TT.
Setelah balapan selesai, kepala tim Honda Kiyoshi Kawashima (yang kemudian menjadi Presiden Honda Motor Co., Ltd) menelepon Honda san di Tokyo. “Selamat, anda melakukannya dengan baik!” ujar atasannya kepadanya.
Dominasi Dunia
Balapan pertama Honda dengan lawan kelas dunia telah memberikan pelajaran banyak bagi perusahaan – terutama terkait banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan apabila mereka ingin mewujudkan mimpi Soichiro Honda untuk menjadi pemenang di kelas dunia.
Mungkin yang terpenting adalah Honda telah menemukan langkah maju yang tepat. Hasilnya adalah kombinasi dari 4 katup per silinder, penggandaan silinder, dan stroke yang lebih pendek, yang mana akan menjadi blueprint dari mesin berperforma tinggi di seluruh dunia untuk beberapa dekade kedepan.Honda baru saja memulai tetapi sudah menunjukkan jalannya.
Pada 1960, Honda kembali ke Eropa untuk ajang balapan dunia penuh pertamanya, dengan RC143 berkapasitas 125cc dan RC162 dengan 4 silinder, dimana pada saat itu kebanyakan mesin 250cc memiliki 1 atau 2 silinder.
Penggandaan silinder memungkinkan stroke untuk diperpendek, sehingga menghasilkan rpm lebih tinggi. Penggunaan empat katup per silinder mengurangi permasalahan pada valve train saat rpm tinggi dan juga aliran udara yang lebih baik. Hal ini juga memungkinkan sentralisasi busiuntuk pembakaran yang lebih baik. Honda telah menciptakan formula yang ampuh.
Pada Juli 1960, Teisuke Tanaka mencetak sejarah dengan mempersembahkan podium yang pertama di kejuaraan dunia untuk Honda, ia mendapatkan posisi ketiga di West German Grand Prix di Solitude.
Di musim balap selanjutnya menjadi tahun yang menyukseskan untuk Honda. Pada tahun 1961 pebalap Australia Tom Phillis memenangkan GP pertama untuk Honda, bersama RC144 ia memenangkan GP Spanyol kelas 125cc di Barcelona. Tiga minggu kemudian Kunimitsu Takahashi meraih kesuksesan pertama pada GP kelas 250cc dengan RC162 di Hockenheim, Jerman. Di waktu yang sama Takahashi menjadi pebalap Jepang pertama yang memenangkan GP. Ketika ia pulang ke Jepang, saat sampai di Bandara Haneda ia disambut langsung oleh Honda san dan Vice President Honda Takeo Fujisawa.
Sebulan kemudian Mike Hailwood mencetak kemenangan Honda pertama di TT dengan RC162. Selain itu pebalap Honda juga memonopoli posisi 5 bisa yaitu Hailwood, Phillis, Jim Redman, Kunimitsu Takahashi dan Naomi Taniguchi.
Pada akhir tahun 1961, musim kedua Honda di Grand Prix, Honda berhasil memenangkan juara dunia di kelas 125cc dan 250cc baik untuk pebalapnya dan juga sebagai konstruktor. Sebuah pencapaian yang fenomenal.
Dan ini baru permulaan. Honda berkembang menjadi kekuatan dominan pada balapan Grand Prix di tahun 1960an dengan raihan 34 gelar juara dunia dan 138 kemenangan di balapan GP, jauh melebihi rivalnya sesama produsen motor.
Sepanjang periode ini, perkembangan teknologi Honda telah meningkat secara tajam. Bahkan ketika kompetitornya berusaha untuk mengejar, Honda dapat tetap lebih unggul, menciptakan jajaran produk yang hingga saat ini masih dianggap sebagai legenda di dunia mesin.
Honda meraih kesuksesan terbesarnya di tahun 1966, ketika motornya memenangkan juara dunia konstruktor di kelas 50, 125, 250, 350, dan 500cc, sebuah pencapaian yang unik.
Mesin yang digunakan pada tahun 1966 merepresentasikan puncak dari performa kekuatan per liter di seluruh motor sport: mesin dua silinder RC116 50cc, mesin lima silinder RC149 125cc, mesin enam silinder RC166 dan RC173 250 dan 250 serta RC181 500cc.
The RC149 menghasilkan tenaga mengagumkan yaitu 270PS per liter pada 20.5000 rpm, yang mana diwujudkan di lintasan melalui gearbox dengan 8 kecepatan. Lebih dari setengah abad kemudian, motor MotoGP tercepat saat inimemproduksi tenaga sebesar 290HP per liter.
Yang paling terkenal dari semuanya adalah 250 six, terkenal dari suara knalpotnya dan kemenangan beruntun bersana Hailwood.
Tahun 1966 Honda memasuki kategori premier 500cc untuk pertama kalinya. Redman menggunakan RC181 yang cepat tapi menantang untuk dikendarai dan berhasil menjadi juara di kali pertama, GP West German, tetapi kemudian mengalami kecelakaan di Belgia yang memupuskan gelar juara dunia untuk Honda.
Tahun berikutnya Hailwood masih menggunakan motor yang sama dan nyaris menjadi juara dunia dengan selisih setengah poin. Mimpi Soichiro Honda untuk memenangkan juara dunia kelas premier masih belum terwujud.
Kemunculan Kembali
Honda menarik diri dari balapan Grand Prix pada akhir musim 1967 untuk fokus dalam pengembangan mesin untuk jalan raya, termasuk superbike CB750 dan juga proyek mobil terbaru untuk Formula 1.
Honda kembali ke balapan motor internasional pada tahun 1976 melalui balapan FIM Coupe d’Endurance yang berbasis di Eropa dengan menggunakan RCB1000 berbasis CB750 dan RS1000. Honda memenangkan gelar juara selama 5 tahun berturut-turut mulai dari 1976 hingga 1980.
Pada tahun 1979, Honda kembali ke kompetisi Grand Prix dengan mesin menakjubkan lainnya, yang mana juga menjadi sebuah legenda, meskipun mesin tersebut tidak pernah memenangkan balapan. Honda sangan berkomitmen dalam menggunakan mesin 4 tak meskipun pada saat itu balapan GP didominasi oleh mesin 2 tak. Untuk mengalahkan mesin 2 tak Honda harus membangun teknologi mesin yang paling radikal saat itu yaitu NR500.
NR merupakan sebuah keajaiban di dunia mesin, sebuah mesin V4 dengan piston oval, 8 katup, dua connecting road dan dua busi per silinder yang dapat mencapai lebih dari 20.000rpm. Intinya mesin ini layaknya mesin V8 dengan 8 silinder yang dileburkan menjadi 4 silinder, jumlah maksimal yang diperbolehkan pada saat itu.
Sasisnya tidak kalah radikal, dengan kerangka aluminium monocoque, ban berukuran 16 inchi, sprocket penggerak yang dipasang secara koaksial, composite Com-Star wheels serta radiator dengan gaya pannier.
NR merupakan singkatan dari New Racer dan Honda mengumpulkan insinyur-insinyur mudanya yang paling brilian untuk mengerjakan proyek tersebut. Namun, meski banyak ide teknologi mesin yang dapat membantu pengembangan Honda di masa depan, mesin NR masih belum dapat mengalahkan mesin 2 tak.
Oleh karena itu, pada 1982 Honda meluncurkan untuk yang pertama kalinya motor 2 tak untuk Grand Prix yaitu NS500. Mesin 3 silinder dengan katup reed induksi tidak seperti motor 4 silinder yang dominan dengan katup cakram induksi, tetapi mesin ini merupakan pemenang potensial ketika ia menyentuh lintasan balap. Pada tahun 1983 Freddie Spencer bersama NS500 membawa Honda menuju kemenangan perdana di kejuaraan dunia kelas 500cc, membuat Soichiro Honda sangat senang. Saking senangnya, ia mengundang Spencer untuk makan siang di rumahnya di Tokyo.
Di tahun berikutnya, Honda meluncurkan motor paling sukses di kelas premier sepanjang masa, yaitu NSR500. Selama satu setengah dekade kedepan, mesin V4 dua tak ini berhasil memenangkan lebihdari 130 balapan GP dan 21 juara dunia baik untuk pebalap maupun konstruktor. Juara dunia yang menggunakan NSR500 antara lain Spencer, Wayne Gardner, Eddie Lawson, Mick Doohan, Alex Criville, dan Valentino Rossi.
Pengembangan Honda NSR, dari tahun 1984 hingga 2001, menceritakan perjalanan perkembangan teknis balapan Grand Prix pada saat era penentuan. Dari pertengahan tahun 1980an level tenaga horsepower meningkat secara drastis, memaksa para insinyur sasismencari cara baru untuk menyalurkan tenaga tersebut di lintasan.
Pada periode ini, insinyur Sasis Honda belajar banyak mengenai desain rangka dan swingarm – geometri, rigidity, dan keseimbangan motor – yang dapat digunakan juga pada motor di jalan umum.
Motor BSR500 pertama merupakan mesin yang diciptakan dengan pemikiran yang luas, dengan posisi tanki bensin di bawah mesin untuk mengurangi titik gravitasi. Tetapi pada kenyataannya hal ini tidak bekerja dengan baik, sehingga NSR500 pada tahun 1985 diproduksi dengan konfigurasi yang lebih konvensional.
Motor ini kemudian mengantarkan Spencer menjadi juara dunia tahun itu. Di waktu yang sama Spencer bersama NSR250 generasi terbaru juga memenangkan titel juara kelas 250cc. Tidak ada pebalap maupun produsen motor lain yang bisa mendapatkan juara dunia kelas 500 dan 250 bersamaan. Motor NSR250 dan RS250RW memenangkan banyak kejuaraan lain, mempersembahkan lebih dari 160 kemenangan GrandPrix, 11 juara dunia kelas 250cc dan 14 juara dunia konstruktor kelas 250cc. Pebalap juara yang menggunakan NSR250/RS250RW adalah Spencer, Sito Pons, Luca Cadalora, Daijiro Kato, Dani Pedrosa dan Hiroshi Aoyama, yang memenangkan juara kelas 250cc di tahun 2009.
Tahun 1987 merupakan masa Honda kembali di balapan kelas 125cc untuk pertama kalinya selama 21 tahun absen. Honda menggunakan motor RS12R dengan mesin 2 tak 1 silinder, yang menjadi salah satu motor Grand Prix paling signifikan sepanjang masa, karena motor ini berhasil menolong ribuan pebalap di seluruh penjuru dunia dalam berkompetisi, mulai dari balapan di GP hingga klub balap. Motor RS125R telah memenangkan lebih dari 130 balapan GP dan mengantarkan banyak pebalap hebat meraih gelar di kelas 125cc, termasuk diantaranya Loris Capirossi, Haruchika Aoki dan Pedrosa.
Di tahun 1989 motor RS125R membantu Honda mengukuhkan dominasi total di balapan Grand Prix untuk pertama kalinya sejak tahun 1966, Honda berhasil memenangkan juara dunia konstruktor di kelas 125cc, 250cc dan 500cc.
Di tahun 1992, Honda membuat terobosan baru dengan mesin konsep NSR500. Mesin yang disebut sebagai big bang ini menggunakan konfigurasi revised firing untuk menyalurkan tenaga dengan cara yang lebih ramah untuk pebalap. Motor ini berhasil mengantarkan Doohan mencetak sejarah 5 kemenangan juara dunia beruntun di kelas 500cc, dari tahun 1994 hingga 1998 dan mengantarkan Rossi menang di final kejuaraan dunia kelas 500cc di tahun 2001.
Era MotoGP
Dalam rentang 1970 hingga 1980an peraturan emisi global yang semakin ketat membuat mesin 2 tak layak digunakan di jalanan, sehingga pada akhirnya balapan menggunakan mesin 2 tak tidak lagi relevan. Pada tahun 2002 balapan Grand Prix berpindah ke mesin 4 tak, dengan mesin 990cc 4 tak menggantikan mesin 500cc 2 tak.
Mesin pertama Honda di era ini adalah RC211V, motor yang dibekali dengan mesin V5 yang luar biasa ini berhasil memenangkan 29 dari 32 balapan MotoGP, juga berhasil mengantarkan Honda menjadi juara dunia baik pebalap maupun konstruktor di tahun 2002 dan 2003.
RC211V merupakan hasil karya yang jenius, mengambil pelajaran berharga dari NSR500 dan Honda RC45 World Superbike untuk menciptakan motor yang dapat menghasilkan performa luar biasa yang nyaman bagi pengendaranya.
Desain compact dari mesin V5 bersudut 75,5 derajat, dengan 3 silinder di bagian depan dan 2 silinder di bagian belakang, memungkinkan konstruksi sasis dengan massa yang tersentralisasi sehingga memberikan kepercayaan kepada pebalap saat menyalip di tikungan.
Terobosan konsep ini memungkinkan banyak pebalap untuk mendapatkan hasil maksimal dari RC211V, seperti Alex Barros, Max Biaggi, Toni Elias, Sete Gibernau, Nicky Hayden, Marco Melandri, Dani Pedrosa, Valentino Rossi, Makoto Tamada dan Tohru Ukawa yang berhasil menang menggunakan motor ini.
Pada tahun 2006 Hayden menjadi juara dunia. Di waktu yang sama motor ini juga mengantarkan Honda menjadi juara dunia konstruktor keempat kalinya selama 5 tahun. Pada tahun 2007 kapasitas mesin untuk MotoGP dikurangi dari 990cc ke 800cc. Honda kembali membangun mesin yang benar-benar baru, memanfaatkan pengetahuan dan pengalaman yang didapatkan selama 5 musim di MotoGP.
RC212V menggunakan mesin V4 bersudut sempit yang dapat melebihi 18.000rpm, yang mana membutuhkan pneumatic-valve spring untuk pengendalian katup yang lebih baik di putaran tinggi. Kurva tenaga 800cc yang lebih curam juga membutuhkan pengendalian elektonik yang lebih baik dari pebalap, hal ini merupakan perkembangan paling signifikan dalam era 800cc. RC212V bukan merupakan kesuksesan instan layaknya RC211V. Motor ini menyerap banyak masukan dari insinyur HRC, yang mana belajar sangat banyak dari pekerjaan mereka di dunia mesin, sasis dan elektronik. Pada tahun 2011 Casey Stoner bersama RC212V berhasil meraih juarqa dunia di MotoGP. Rekan satu timnya yang juga menggunakan RC212V Andrea Dovizioso dan Dani Pedrosa berada di urutan ketiga dan keempat yang mengantarkan Honda menjadi juara dunia konstruktor tahun itu.
Pada tahun 2012, peraturan mesin MotoGP kembali berubah, dimana kapasitas mesin naik menjadi 1000cc. RC213V juga menggunakan mesin V4 tetapi dengan sudut 90 derajat untuk keseimbangan yang presisi. Motor ini menjadi calon pemenang instan, dimana kesempatan juara dunia Casey Stoner hilang karena ada perubahan spek ban depan di tengah musim.
Super-rookie Marc Marquez datang di tahun 2013 untuk menyabet gelar di kesempatan pertamanya, menggunakan teknik balapnya yang memacu RC213V hingga batasnya dan bahkan melampauinya. Motor ini membukan era keemasan baru bagi Honda, dengan pebalap muda asal Spanyol yang menjadi 6 kali juara dunia MotoGP pada tahun 2013 hingga 2019, sementara Honda mendapatkan gelar juara dunia konstruktor ketujuh Antara tahun 2012 hingga 2019. Gelar juara dunia terakhir yang didapatkan Honda bertepatan dengan 25 tahun Honda di kelas premier, sebuah tonggak sejarah baru.
Pada periode ini, Briton Cal Crutchlow dan Jack Miller juga memenangkan balapan MotoGP menggunakan RC213V.
Grand Prix kelas menengah juga beralih ke tenaga 4 tak, dengan kategori 250cc menjadi Moto2 di tahun 2010 dan kelas 125cc menjadi Moto3 di tahun 2012. Honda menciptakan mesin terbaru untuk Moto3, motor Honda 250cc 4 tak pertama untuk Grand Prix sejak RC166 yang memiliki 6 silinder di taqhun 1960an.
Honda NSF250RW merupakan mesin 1 silinder, yang menurut regulasi teknis didesain untuk menciptakan balapan dengan biaya yang lebih rendah.
Desain Honda NSF250RW yang pintar dan compact – dengan silinder rearward-facing – telah membuatnya secara konsisten menjadi motor paling sukses di Moto3, dengan raihan juara mendekati 100 kemenangan di kelas ini. Honda juga memenangkan 4 dari 5 juara konstruktor terakhir di kategori ini.
Recent Comments